Yuk #MulaidenganSadar

Ketahui Klaim-Klaim dari Produk Skincare Sebelum Membeli

Tahukah kamu, seringkali industri kecantikan menggunakan banyak kata dan janji untuk mengiming-imingi calon pembeli. Hal-hal yang dijanjikan secara berlebihan oleh produk skincare seringkali membuat kamu harus menghabiskan uang lebih banyak untuk belanja skincare.

Ketidaktahuan kita terhadap kebenaran klaim tersebut bahkan dapat membuat kulit mengalami efek negative dalam jangka waktu panjang. 

Dilansir dari Harpers bazaar, berikut adalah klaim-klaim umum yang berada pada label produk skincare yang tidak boleh langsung kamu percaya.

1. Organik

Organik secara harfiah berarti dibudidayakan tanpa bahan kimia sintetis. Term ini sebetulnya merujuk pada bahan mentah (hasil pertanian). Produk organik diperbolehkan menggunakan pupuk dan pestisida alami. Sertifikasi ini dibuat untuk melindungi konsumen dari upaya greenwashingoleh produsen.

Sejauh ini sudah ada banyak badan sertifikasi yang mengeluarkan sertifikat organik di seluruh dunia. Termasuk pemerintah Indonesia. Namun sertifikasi organik di Indonesia hanya diperuntukkan bagi bahan mentah dan makanan. Sertifikasi bahan olahan belum ada.

Setiap badan sertifikasi memiliki kriteria yang berbeda. Menurut standar ECOCERT,  untuk produk olahan skincare, untuk dapat meng-klaim sebagai organik, bahan yang digunakan harus lebih dari 80% bahan yang tersertifikasi organik dari 95% penggunaan natural. Bila dibawah atau sama dengan 80%, maka klaim yang benar adalah “dibuat dengan bahan organik / made with organic ingredients”. Logo badan sertifikasinya pun dicantumkan pada kemasan agar konsumen mengetahui acuan standar yang dipakai. 

Sertifikasi organik membutuhkan biaya yang cukup besar, diperiksa dan diperpanjang dalam periode tertentu. oleh karena itu produk yang menggunakan klaim organik memiliki harga permium. Apabila amda mendapati produk yang menggunakan klaim organik, mintalah bukti berupa no. sertifikat yang dapat anda cek pada website badan yang memberikan sertifikat. 

2. Natural

Selanjutnya adalah produk natural. Produk perawatan dikatakan natural apabila semua kandungan yang dipakai berasal dari bahan-bahan alam dan turunannya yang mana dalam proses mendapatkan bahan tersebut tidak menggunakan unsur minyak bumi, merusak lingkungan maupun menyebabkan bahaya terhadap calon penggunanya, baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. 

Menurut ECOCERT, sumber natural ada 3 : plant, animal & mineral.

Namun untuk bahan yang merupakan olahan dari ketiganya, harus dilihat juga proses pembuatannya maupun proses mendapatkannya. Apakah bahan tsb kemudian kehilangan sifat naturalnya? Apakah produk tersebut berbahaya untuk konsumen maupun lingkungan? Apakah produk tersebut menyebabkan punahnya suatu spesies atau tidak

Misalnya Silicone, itu asalnya dari silica. Silica itu mineral alami. Tapi karena proses pengolahannya, silicone sudah tidak dapat dikategorikan natural, dan tidak bio-degradable. Contoh lainnya adalah essential oil Sandalwood dan Rosewood, kedua essential oil ini di proses secara alami dan tidak kehilangan sifat naturalnya, namun kedua spesies ini sudah langka dan dilindungi, sehingga produk yang menggunakan klaim natural seharusnya tidak menggunakan bahan ini.

Klaim natural juga banyak disalahgunakan. Produsen mengklaim natural walaupun hanya sebagian kecil bahan natural yang digunakan. Anda bisa membaca klaim tersebut seperti menggunakan "100% natural minyak Argan" namun jika konsumen jeli membaca, minyak argan tersebut hanya sedikit sekali dosisnya didalam produk. 

Adanya Polyethylene Glycol (PEG), SLS/SLES, Hydroquinone (HQ), Propylene Glycol (PPG), BHT, EDTA, Mineral Oil (petroleum), juga tidak diperbolehkan dalam standar natural maupun clean. Standard natural yang digunakan oleh YAGI NATURAL mengacu pada standa ECOCERT dimana 95% bahan baku yang digunakan merupakan bahan alami, dan 5% lainnya merupakan bahan yang "natural allowed". 

YAGI Natural adalah produk perawatan tubuh yang produk-produknya menggunakan bahan dasar alami cocoa butter. Semua produknya dibuat sedemikian rupa demi memberikan hasil maksimal pada kulit kamu.

3. Cruelty Free

Produk yang mengklaim dirinya cruelty-free dan sudah menggunakan logo kelinci mungil di label kemasannya berarti bahwa produk tersebut sudah lolos sertifikasi Leaping Bunny. Artinya dalam proses pembuatan produknya, tidak ada keterlibatan makhluk hidup atau uji coba pada binatang (animal testing) baik pada bahan baku yang digunakan maupun pada uji efikasi pada produk akhir. 

Biasanya produk yang belum cruelty-free adalah produk yang brandnya juga dipasarkan di China, sebab semua produk kecantikan yang akan dijual di China memang wajib melalui tahap uji coba pada hewan sebelum dipasarkan.

Akan tetapi, klaim tersebut hanyalah sebatas kesadaran produsen untuk melindungi binatang dari kekejaman eksploitasi saja, ya. Klaim tersebut tidak otomatis memberi gagasan bahwa produk tersebut berbahan natural. 

4. Vegan

Produk dengan klaim vegan berarti bahwa produk tersebut tidak mengandung bahan apapun yang berasa dari hewan dan turunannya (seperti madu dari lebah, wax dari lebah, dst), namun masih ada kemungkinan bahwa produk akhir tersebut diuji coba pada hewan.

Meski produk kosmetik berbahan vegan hanya mengandalkan ekstrak tumbuhan sebagai bahan baku, dan menggunakan bahan baku kimia sebagai pengganti unsur hewani. Jadi produk yang diklaim vegan pun belum tentu produk natural. 

5. Clean Beauty Skincare

Tren skincare yang sedang populer belakangan ini adalah clean beauty. Standar Clean beauty dibuat oleh Goop dan kelompoknya, untuk mengidentifikasi produk mereka yang dibuat dengan klaim tidak mengandung racun, dibuat tanpa bahan atau senyawa yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Pada dasarnya adalah produk ini tidak hanya aman untuk manusia tapi juga aman untuk bumi ini.

Clean beauty skincare berbeda dengan produk vegan. Produk skin care bisa dikatakan vegan jika tidak mengandung segala bahan yang diproduksi dari hewan, namun bukan berarti terbebas dari bahan kimia. Sebaliknya clean beauty skincare juga belum tentu vegan. Meski tidak mengandung bahan-bahan kimia, tapi clean beauty skincare umumnya masih mengandung bahan-bahan yang dihasilkan oleh hewan seperti madu, lanolin atau wax yang terbuat dari lebah. Penggunaan terminologi atau klaim clean beauty ini tidak bisa dilakukan sembarangan, karena klaim ini sudah didaftarkan sebagai Trademark. 

6. Teruji secara Dermatologis

Kata-kata di atas biasanya akan memberi ide bahwa produk ini sudah direkomendasikan oleh para ahli. Ingat ya, meskipun dikatakan bahwa produk telah direkomendasikan para ahli, belum tentu produk tersebut totally aman untuk kamu gunakan, karena kamu tidak tahu persis proses dan metode pengujian sampel yang dilakukan. Banyak penelitian yang mengambil sampel namun tidak cukup mewakili semua tipe kulit.

Nah, janji di atas tidak memberi jaminan ya bahwa produk tersebut bisa memberi manfaat mencerahkan, menjaga kelembaban kulit atau menjaga kesuburan rambut kamu.

7. Hypoallergenic, terbaik untuk kulit sensitif

Ini adalah salah satu janji produk skincare yang popular. Dengan membaca kata “hypoallergenic” atau “untuk kulit sensitif”, kita biasanya sudah langsung 75% percaya bahwa produk tersebut tidak akan menyebabkan reaksi alergi.

Tapi kamu tetap harus membaca lebih detail daftar bahan yang terkandung di dalam produk skincare tersebut, ya. Sebab, belum ada kualifikasi yang berlaku secara tepat mengenai suatu produk yang dianggap “hypoallergenic”. Sehingga tidak bisa dipastikan apakah metode pengujian hingga pembatasan bahan sudah memenuhi syarat atau tidak.

Nah, sekarang kamu sudah tahu kan, apa saja klaim yang dikeluarkan oleh industri perawatan tubuh? Pada dasarnya, semua orang punya tipe kulit yang berbeda-beda baik kondisi atau kebutuhannya. Produk yang cocok buat temanmu belum tentu cocok buat kamu. Maka, kamu harus selalu aware dan lebih perhatian pada perawatan tubuh sendiri, dengan mengetahui betul produk dan kandungan apa saja yang terkandung di dalamnya.

Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published